RSS

Category Archives: Cerita bunda

Spiritual tour with ESQ

I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wandered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way
I walked everyday
Further and further away from you
O Allah,you brought me home
I thank You with every breath I take.
Reff. Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah I never thought about
All the things you have given to me
I never thanked you once
I was too proud to see the truth
And prostrate to you
Betapa besar cinta Allah kepada umatNya
Betapa sayang Allah kepada umatNya
Allah.. Engkau tuntun kami kembali ke jalanMu
Allahu akbar..
engkau rengkuh kami kembali
Engkau karuniakan rezeki yang cukup
Engkau hilangkan segala kesulitan
hingga  kami dapat memenuhi panggilanMu
sungguh, betapa luas cinta dan kasihMu
Ya Allah..Ya Muhaimin..Ya Ghoffar..Ya Mu’izz..Ya Lathiif..Ya Haliim

Nikmat Allah yang mana lagi yang kami dustakan.

Astaghfirulahal adziim…
Sungguh tak kuasa berkata-kata, betapa malu diri mengingat segala dosa. Wahai Allah yang maha sabar..Maha pengasih lagi Maha penyayang. Ampunkan dosa kami….

17(di pelataran masjid Nabawi-bada sholat Jumat)

20

18

Ya Allah…
Aku datang memenuhi panggilanMu
tiada sekutu bagiMu, segala puji, nikmat, dan segenap kekuasaan adalah milikMu.
10
 
mengutip dari aagym : “sesungguhnya umroh dan haji bukanlah masalah uang, melainkan undangan Allah, bila Allah mengundang maka Allah akan adakan jalannya “
ayo kita semua bersungguh-sungguh berdoa kepada Allah…semoga kelak akan Allah izinkan kita semua berkunjung ke Baitullah, aamiin..
11(suasana malam di masjid Nabawi, ba’da isya-sebelum ke Raudhoh)

Subhanallah..walhamdulillah…wa laailahaillallah huwallahu akbar..

Allaahh..
engkau izinkan kami menapakkan kaki di tanah haramMu
engkau izinkan kami menatap agungnya BaitMu
engkau izinkan kami bersujud di rumahMu
Kabah yang berdiri kokoh dengan seribu pesona
selalu mampu membuat takjub setiap mata yang menatap
Kiblat seluruh umat muslim,
di tempat ini tak ada lagi ingatan duniawi yang fana
tak ada lagi kegelisahan dan gundah gulana
yang ada hanya tangis penuh dosa, tangisan harap akan pengampunan
disini..semua ruh berkumpul memuji namaMU
Air mata haru terus mengalir membasahi pipi
tangis rindu dan perasaan cinta yang maha tinggi kepada Dia sang maha pemilik Cinta.
Ya Allah..Engkau maha tau segala apa yang tersembunyi dan amal perbuatan yang nyata.
mohon ampunkanlah hamba..
biarkanlah airmata ini kelak menjadi saksi bagi orang-orang yang selalu menangisi diri karena takut akan dosa
takuutt akan azab Allah azza wa jalla.


6
“Ya Allah, sesungguhnya Bait ini adalah BaitMu, tanah mulia ini tanahMu, negeri aman ini negeriMu, hamba ini hambaMu, anak dari hambaMu, dan tempat ini adalah tempat orang berlindung kepadaMu dari siksa neraka, maka haramkanlah daging dan kulit kami dari siksa neraka. Ya Allah, cintakanlah kami pada iman dan biarkanlah ia menghiasi hati kami, tanamkan kebencian pada diri kami pada perbuatan kufur, fasiq, maksiat dan durhaka, serta masukkanlah kami kedalam golongan orang yang mendapat petunjuk. Ya Allah, lindungilah aku dari ‘azabMu di hari Engkau kelak membangkitkan hamba-hambamu. Ya Allah, anugerah-kanlah surga kepadaku tanpa hisab”.
7
“Ya Allah, yang memelihara Ka’bah ini, bebaskan diri kami, bapak-bapak dan ibu-ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka, wahai Tuhan yang maha Pemurah, Dermawan, dan yang mempunyai keutamaan, kemuliaan, kelebihan, anugerah, pemberian dan kebaikan. Ya Allah, perbaikilah kesudahan segenap urusan kami dan jauhkanlah dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu, berdiri dibawah pintuMu, menundukkan diri di hadapanMu sambil mengharapkan rahmatMu, kasih-sayangMu, dan takut akan siksaMu. Wahai Tuhan pemilik kebaikan abadi, aku mohon kepadaMu agar Engkau tinggikan namaku, hapuskan dosaku, perbaiki segala urusanku, bersihkan hatiku, berilah cahaya didalam kuburku. Ampunilah dosaku dan aku mohon padaMu martabat yang tinggi didalam surga”.
23

“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka””Dan masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbuat baik, wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun dan Tuhan yang menguasai seluruh alam”.

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari keraguan, syirik, pertengkaran, kemunafikan, buruk budi pekerti dan penampilan yang buruk dalam harta benda, keluarga dan keturunan. Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu keridhoanMu dan surga. Dan aku berlindung daripada murkaMu dan siksa neraka. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari fitnah kubur, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan derita kematian”

22(bersama teman-teman ESQ-di puncak jabal nur)

“Ya Allah, karuniakanlah haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, amal saleh yang diterima dan usaha yang tidak mengalami kerugian. Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terkandung dalam hati sanubari, keluarkanlah aku dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang. Ya Allah aku mohon kepadaMu segala hal yang mendatangkan rahmatMu dan keteguhan ampunanMu, selamat dari segala dosa dan beruntung dengan mendapat berbagai kebaikan, beruntung memperoleh surga, terhindar dari siksa neraka. Tuhanku, puaskanlah aku dengan anugerah yang telah Engkau berikan, berkatilah untukku atas semua yang Engkau anugerahkan kepadaku, dan gantilah apa-apa yang hilang dengan kebajikan dariMu”.

21(bersama mba Nia, dosen2 UPI dan ust.Chalil di Lobby hotel Le Meridien-Mekkah)

“Ya Allah, lindungilah aku dibawah naungan singgasanaMu pada hari yang tidak ada naungan selain naunganMu, dan tidak ada yang kekal kecuali ZatMu, dan berilah aku minuman dari telaga Nabi Muhammad SAW dengan minuman yang lezat, segar dan nyaman, serta tidak akan merasa haus lagi sesudah itu selamanya. Ya Allah, aku mohon padaMu kebaikan yang dimohonkan oleh NabiMu Muhammad SAW, dan aku berlindung padaMu dari kejahatan yang dimintakan perlindungan oleh NabiMu Muhammad SAW. Ya Allah, aku mohon padaMu surga serta ni’matnya dan apapun yang dapat mendekatkan aku kepadanya baik ucapan, perbuatan maupun pekerjaan, dan aku berlindung padaMu dari neraka serta apapun yang mendekatkan aku kepadanya baik ucapan, perbuatan atau pekerjaan”

15(foto bersama jamaah umroh ESQ angk 116-di Jabal Uhud)

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mempunya hak yang banyak sekali atas diriku dalam hubungan antara aku dengan Mu. Dan Engkau juga mempunya hak yang banyak sekali dalam hubungan antara aku dengan makhlukMu. Ya Allah, apa yang menjadi hakMu atas diriku, maka ampunilah aku. Dan apa saja yang menjadi hak makhlukMu atas diriku, maka tanggungkanlah dariku. Cukupkanlah diriku dengan rizkiMu yang halal, terhindar dari yang haram. Dan dengan ta’at kepadaMu, terhindar dari kemaksiatan. Dan dengan anugerahMu terhindar daripada mengharap dari selain daripadaMu, wahai Tuhan Yang Maha Luas pengampunanNya. Ya Allah, sesungguhnya rumahMu ini agung, ZatMu pun sungguh mulia, dan Engkau ya Allah, Maha Penyabar, Maha Pemurah dan Maha Agung, Engkau suka memberi ampun, maka ampunilah aku”

13(Jabal Rahmah)

“Ya Allah, aku mohon kepadaMu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, rizki yang luas, hati yang khusyu’, lidah yang selalu berdzikir, rizki yang halal dan baik, taubat yang diterima, taubat sebelum mati, ampunan dan rahmat sesudah mati, ampunan ketika dihisab, keberuntungan memperoleh surga dan selamat dari neraka, dengan kasih sayangMu, wahai Tuhan Yang Maha Perkasa, Yang Maha Pengampun. Tuhanku, berilah aku tambahan ilmu pengetahuan dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh”

1

3

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui rahasiaku yang tersebunyi dan amal perbuatanku yang nyata, maka terimalah ratapanku. Engkau Maha Mengetahui keperluanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau Maha Mengetahui apapun yang terkandung dalam hatiku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah, aku mohon padaMu iman yang tetap melekat terus di hati, keyakinan yang sungguh-sungguh sehingga aku mengetahui bahwa tiada suatu yang menimpaku kecuali yang telah Engkau tetapkan bagiku, rela menerima apa yang telah Engkau bagikan kepadaku. Engkaulah Pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan masukkanlah kedalam orang-orang yang saleh. Ya Allah, janganlah Engkau biarkan di tempat kami ini suatu dosa kecuali Engkau ampuni, tiada kesusahan hati kecuali Engkau lapangkan, tiada suatu hajat kecuali Engkau penuhi dan mudahkan, maka mudahkanlah segenap urusan kami dan lapangkanlah dada kami, terangilah hati kami dan sudahilah semua amal kami dengan amal yang saleh. Ya Allah, matikan kami dalam keadaan muslim, hidupkanlah kami dalam keadaan muslim dan masukkanlah kami kedalam golongan orang-orang yang saleh, tanpa kenistaan dan fitnah”.

 2(perjalanan pulang-mampir di Jeddah, belanja oleh-oleh dan nyempetin makan bakso hehhee)

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 2, 2013 in Cerita bunda

 
Image

hureeeiii jali-jalii…

5rsz

Akhirnyaa setelah sekian lama gak pernah sempat holiday bersama, jadi juga kami sekeluarga liburan ke pantai. Ayo tebak dimanakah kami berlibur pemirsa..??!! hahhaaa

bukan bali, bukan makassar…cuma pantai panjang Bengkulu aja, cukup untuk membuat anak2 hepi bermain pasir..

kenapa Bengkulu…selain jarak yg paling dekat dari rumah, tidak terlalu banyak menghabiskan waktu diperjalanan, lebih kurang 5jam perjalanan kami sudah tiba di kota Bengkulu. Pssstt bunda mau shopping bahan kue jg lhoo, but ternyata tujuan yang ini salah alamat, gak ada tbk yg lengkap bin murah di kota bengkulu…semua nya mahal hikss

niat borong seafood buat oleh2 juga sedikit kecewa, karena lagi musim badai..lumayanlah dapat sedikit ikan laut n cumi aja untuk dibawa pulang..

alhamdulillah, selama disana..wisata kuliner cukup terpuaskan..ketemu warung coto makassar yang rasanya enaaakkk…obat kangen soroako, walau gak ada menu kapurung nya, tp sempet nyobain mie titi, nasi bakar dll semuanya enaakk.

ada juga Nasi uduk Tanjung karang, trus ada resto seafood pinggir pantai panjang, nah kalo yang ini namanya lupaaa hehhee *recomended..

7rsz

pose di pinggir pantai..mesraaaaaaanyeeee 😀

4rsz

hasil jepretan abiy…keren yaaa pemirsa..

3rsz

senangnya anak2 main pasir dan kejar2an ombak di pantai

13rsz

14rsz

2rsz

8rsz

11rsz

tengilnya si rafey aaahhh…pose with abiiyy…

12

kakak mamerin tiket nonton G.I. Goe (betul gak sih judul film nya hihiii…)

12rsz

enjoy ur short holiday dear..hanya 2malam kami menginap di Bengkulu, menghabikan waktu di hotel Santika dan Grage Horizon. Anak-anak sempet ngambek gak mau pulang, belum puas main dipantai kata mereka…hmmm bunda harus kerja sayang..next time kita jalan2 lagi, insyAllah..

 
Leave a comment

Posted by on May 8, 2013 in Cerita bunda

 

Surprise Party for Twin’s Bday

Happy 4th aNniverSaRy mY DeAr Twins..

Niat bunda awal nya mau bikin party di sekolah, tapi ternyata Palm Kids keburu libur. Pengen dimajuin ultahnya, tapi berbarengan dengan jadwal final test nya si kaka. Secara setiap kaka ujian sekolah, twinskitchen selalu closed order, itu berarti kegiatan di dapur otomatis dikurangi.  Yyaahh…beralih profesi dari baker menjadi guru private only hihiii. Bukan apa-apa sih, si kaka rada susah kalo disuruh belajar sendiri, bakal banyak melamun n mainnya, jadi memang kudu di mandorin sama bunda. Trus juga katanya pamali kalo ngerayain ultah belum waktunya, jadilah dengan susah payah ngebujuk si kembar supaya mau bikin party  dirumah aja. Bunda janji bikinin surprise party dengan kado yang buanyaak. Mending budget buat party dibeliin kado untuk mereka. So, terserah adek mau request apa, bunda beliin deh..

H-2 bunda dan abiy mulai hunting kado buat si kembar, mulai dari barbie, sepatu, boneka doraemon, meja belajar mini, celengan, aksesories rambut. Oma juga sibuk nyiapin kado buat si kembar, heboohh..

Selain surprise party, bunda juga nyiapin nasi kotak untuk anak-anak panti asuhan didekat rumah. Dengan dibantu oma, H-1 mulai nyicil bikin lauknya.

Si twin udah request ‘castle cake‘ dari jauh-jauh hari. Maapkeun bunda kalo kurang sempurna ya nak…cake nya asal jadi 😦 Salah bunda juga kenapa pake SKS alias sistem kebut semalam, belum lagi mesti prepare 60ktk nasi kuning buat dibagiin ke anak-anak panti bsk pagi nya, fikiran bercabang..mana kerja sendiri. Pfftt jam 12 malam masih belum kelaarr..idenya mentok, menara yang tadinya mau dibuat tinggi  malah jadi kayak jamur hihiiii…but, its oke lah yang penting anak-anak senang. Buat mereka yang penting ada nuansa Pink nya, pasti dibilang bagusss..

Voila..Castle cake request my twins..

“wow…bagus banged castle cake nya buun….” komentar mereka, hehheee…

thx yaaa cinta bundaaaa…

Alhamdulillah..puas, kali ini bisa memberikan mereka castle cake buatan bunda sendiri..

sedikit penampakan belakangnya, untuk menutupi kekurangan, jadilah ditempel beberapa rambatan pohon, lumayan cantik jg kaaann…

si kembar dengan kostum princess nya..

Doa bunda dan abiy..semoga Rafey dan Rayna panjang umur, selalu sehat, jadi anak yang pintar, dan saleha ya sayang…

Semoga Allah terus berikan bunda kesabaran dan ketangguhan dalam mengurus dan mendidik kalian hingga kelak menjadi manusia yang berhasil. Demikian juga Abiy, semoga diberikan umur yang panjang, kesehatan dan kekuatan untuk dapat terus berjuang demi mengais rezeki untuk masa depan kalian, aamiiin

bahagia bisa kumpul, walau gak lengkap..

Hebaatt..Rafey n Rayna berani bernyanyi, menghibur kami semua..

ayo tepuk tangan semuaaa, ujar rayna…

aahhh pintarnya anakku, alhamdulillah alangkah bahagianya keluarga besar kami memiliki mereka, Ya Allah semoga Engkau Izinkan aku menemani mereka hingga hari tuaku nanti..Aamiin..

tak lupa, Opa memimpin doa untuk si kembar dan kami sekeluarga…dilanjutkan dengan potong kue ala kadarnya..

si kaka tetep eksis walau gak ultah. Sempet mewek karena liat adikknya dapat banyak kado hahhaa, sabar ya nak..Agustus nanti giliran kaka..

Yippiee…mariii dibuka kadonyaaa…

Seperti maunya si kembar, mereka pernah berkhayal pengen diberi kejutan pada saat ultah nanti. Inilah akibat  kebanyakan nonton serial Barney, ada salah satu seri filmnya yang berjudul ‘kejutan’ sepertinya si kembar benar-benar terobsesi akan cerita itu. Aaaahh lucuunya…mereka selalu berceloteh minta dibuatin surprise party seperti di film itu, kejutan dengan banyak kado, kue tart yang cantik, balon warna warni dsb..dsb…

Baiklah demi sebuah kejutan kecil, kami pun sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, walau cukup sederhana, tanpa undangan dan para tamu, alhamdulillah senang bisa melihat si kembar tersenyum bahagia..

lihat saja ekspresi mereka ketika membuka kado, gemess yah…luv u both dear..

kalo yang ini hadiah dari bundaa, haiii !! lihaaatt…sepatu ku kegedean hahahaa…

Meja baru, hadiah dari Abiy…tambah rajin belajarnya yaaa…

-the end-

 
4 Comments

Posted by on June 28, 2012 in Cerita bunda

 

Kids time..enjoy dear…

liburan kali ini, khusus buat anak-anak…tiba di jakarta kita check in di hotel favorite ‘Millenium’ biasalah..bunda nyari yang paling deket sama tanah abang, hehee sambil menyelam minum susu..sela-sela waktu istirahat anak2 bunda bisa ngibrit ke tanah abang blanja blanjii sekedarnya khaann…

habis mandi, istirahat bentar..lanjut jalan lagi…sambil nunggu taxi datang, foto-foto dulu lah yaa..

bunda ma abiy..kompakan pake kuning jreeng…hhihiii

setelah puas puter-puter, dinner..balik lagi ke hotel…its time to sleep..

Psssttt..nyenyak banged ya kaka…

kalo yang atas, foto si Rafey bangun tidur…minta minum ‘putih’ bundaaa, sambil peluk aqua…jepret dulu aahh…teteup cantik anak bunda, walau masih belekan hihiii

Bangun tidur kuterusss renang…brrr aaseeq dingiin….

Horeee…Rafey berani sendiri bunn…

habis renang…nah ngapain rafey yah..

Si kembar pose..

siang nya, jadwal si kaka main ice skating..enjoy dear..

So Beautiful…cupkissss….

katanya dingin, tapi teteuup gak betah pake jaket..olalaaaa…

Hari terakhir nyobain Take Mansion, masih di dekat tanah abang..hotel nya mungil…bangunan tua…tapi lumayanlah…

Bunda ma kaka, di Pizza Hut..

waktunya si kembar play..play….

Rayna pose di rumah Abah Harry..

Alhamdulillah, bisa kumpul n silaturahmi di rumah Uwak Renita dan Abah Harry…

dari rumah abah kita lunch bareng di Solaria, trus berpamitan…abah n uwak berangkat ke Bandung, qita lanjut jalan ke Pacific Place, anak-anak dah gak sabar main di kidzania..

selesai make over si twin main masak-masakan…hahhaaa…hanncuuurr dah…

 

seneng banged anak-anak…bermain sambil belajar…si kembar jadi tau proses pembuatan susu, coklat dan teh kotak, tak lupa ikutan make over di beauty salon…qiqiii lucu deh si kembar. Si kaka juga belajar tentang bagaimana pembuatan handuk. ikutan sekolah model, jadi baker, dentist, pembawa berita di metro tv studio, dan jadi apoteker belajar meracik obat….so wonderful…

 
Leave a comment

Posted by on May 15, 2012 in Cerita bunda

 

SMART PATIENT

aku baca artikel ini di akun fb sahabatku yang sekarang tinggal di Sudbury, izin share mba Nadira Alfi yang cantiikk…tengkiu…*peluuks

seshttp://a7.sphotos.SebSebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju “pelit” Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”

Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrumagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju “pelit” Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”

Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrumak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/p480x480/418681_263895757016284_100001875866018_642469_219490325_n.jpg

 
Leave a comment

Posted by on April 27, 2012 in Cerita bunda

 

Marah itu..

yukk kita belajar manajemen marah…hehee ada ya ??

berikut saya coba copaskan beberapa kata bijak tentang “marah”..smga setiap kita bisa memetik hikmah nya.

MARAH DENGAN ANGGUN-Mario Teguh

adalah bersikap tegas tanpa kasar,
dan tetap memelihara rasa hormat orang yang kita marahi.

BERSABAR adalah tetap merasa marah,
tapi tidak menggunakannya untuk merendahkan diri
dan merusak hubungan baik dengan orang lain.

RASA MARAH adalah berkah,
agar kita menemukan kekuatan yang besar
untuk mengubah perilaku yang merusak moral,
menyengsarakan masyarakat, atau merusak alam.

Yang dilarang adalah menggunakan rasa marah
untuk menyebabkan kerusakan pada diri sendiri,
hubungan baik dengan orang lain, atau merusak alam.

Mario Teguh – Loving you all as always

Engkau yang marah – Mario Teguh

Engkau yang sedang marah, … sudahlah …
Janganlah kau teruskan memarahinya,
yang sesungguhnya sudah tahu bahwa dia salah.Bukankah penyesalannya sudah cukup menyiksanya?

Apakah engkau menjadi lebih mulia
dengan membuatnya merasa semakin rendah
dan terluka dalam penyesalannya?

Apakah dunia ini menjadi lebih baik
denganmu yang marah tanpa arah,
dan dia yang meminta maaf kepadamu
yang tanpa rasa kasihan?

Sudahlah …

Lembutkanlah hatimu, dan lihatlah dia dengan kasih sayang.

Ingatlah,
suatu ketika nanti engkau akan juga berada
dalam keadaan yang sama.
Dan engkau akan tahu rasa dari penyesalan
dan permintaan maaf yang ditepis seperti lalat yang kotor.

Sudahlah …

Berkasih sayanglah. Damaikanlah hatimu dengan memaafkannya.

Dan dalam tangis yang bersulam tawa kecil,
dan dalam senyum haru yang berlelehkan air mata,
lupakanlah masa lalu,
hiduplah sepenuhnya hari ini,
dan jadilah pribadi yang sehat, damai,
dan bernafas lapang
menyambut semua kemungkinan baik masa depan –
yang disediakan bagi jiwa
yang meneruskan kehidupan dengan damai,
walau keadaan dan kejadian
seperti memberimu hak untuk marah
dan merusak dirimu sendiri.

Berhentilah marah.
Memaafkan menjadikan jiwamu berpendar indah.
Memaafkan menjadikanmu sesuai bagi keindahan hidup yang kau rindukan.
Tersenyumlah, dan bernafaslah dalam selapang-lapangnya dada.

Mario Teguh – Loving you all as always
Marah itu nikmatnya hanya sesaat,

tapi penyesalannya bisa seumur hidup.
Setan membesarkan rasa marah di hati kita,
menambahi nikmat dalam pelampiasannya,
agar kita mengkasarkan kata-kata
dan mengkejikan tindakan,
agar rusak hubungan kita dengan keluarga dan sahabat.Lalu setan pergi tersenyum puas,
karena dia berhasil memisahkan satu jiwa baik
dari jiwa-jiwa yang menjadi alasan bagi pemuliaan hidupnya.

Mario Teguh

Jangan Marah, Balas – Mario Teguh

Cara Terbaik untuk balas dendam adalah memafkan, membalasnya dengan rencana hebat, lalu menjadikan kehidupannya hebat. Jangan menunggu marah untuk berlaku tegas, tapi gunakanlah kasih sayang di hati Anda untuk berlaku tegas.

Mario Teguh

Marah itu rahmat, tetapi cara menggunakannyalah kadang menjadikan kita bisa salah, atau bahkan menjadikan kita mulia karenanya.

Mario Teguh

Memaafkan itu adalah membatalkan rencana membalas, tetapi ingat kesalahannya dan ingat pelajarannya.

Mario Teguh

Putuskan jadi orang besar, sibukkan diri Anda, untuk meneruskan kehidupan dengan sebaik-baiknya apapun yang dilakukan orang kepada Anda.

Mario Teguh

special for my love, u’re d one n only
deep love n hugs,
ur wife
 
Leave a comment

Posted by on April 18, 2012 in Cerita bunda

 

when, I feel lonely..

berada pada suatu titik yang disebut JENUH

lantas apa yang bisa disalahkan, kesendirian? jalan hidup?? rutinitas??? bukaaaaann..bukan itu..

saat ini, yg paling bijak adalah berdamai dengan suasana hati, mencoba mengingat semua hal berharga yang pernah saya miliki, yaa…Alhamdulillah ada 3 bidadari kecil yang selalu menyambutku pulang dari aktifitas luar rumah, dengan teriakan riang mereka selalu mampu membuatku tersenyum. Najla dengan kemandirian dan sifatnya yang jauh lebih dewasa dari usia nya yang baru 5tahun, si kembar yang semakin cerdas hingga selalu mampu membuat ku terkaget-kaget dengan setiap jawaban dan celoteh mereka jika ditegur karena dianggap melakukan kesalahan. Hhmmm…..terkadang kerap muncul rasa bersalah ketika diri tidak bisa selalu berada disisi mereka seperti dulu, memantau setiap perkembangan mereka, menemani hari-hari mereka dari bangun tidur hingga tidur lagi.

mengutip dari tulisan mba Angie di blog nya “Apapun tugas dan beban kita, ketika dijalankan dengan kesabaran, keikhlasan dan keyakinan pastilah akan berbuah manis. Lebih baik mengikis tangis dengan tawa, doa serta usaha daripada terus meringis meratap segala hina maupun dosa. Terimalah hidup apa adanya, lakukan hal terbaik yang dipunya agar berfaedah setelahnya”.

yuukk..buka mata lebar-lebar…takkan pernah terhitung nikmat yang Allah curahkan, kesedihan itu hanya setitik, dan tak perlu dibuat besar..

dari Mario Teguh “Kehidupan ini selalu memperbarui wajah dan perilakunya, sehingga tak mungkin ada orang yang sepenuhnya mengerti tentang kehidupan. Maka cukupkanlah upayamu untuk mengerti perilaku kehidupan yang sering kau sangka moody dan temperamental kepadamu itu. Cara terbaik dan terdekat untuk mengerti kehidupan adalah mengenal dirimu sendiri. Hatimu bergetar dengan musik kehidupan yang sesuai dengan sikap dan perilakumu. Jika engkau berlaku lembut dan indah dalam keseharianmu, musik kehidupan ini mengalun indah dan melambungkan jiwamu dalam kebahagiaan yang dulu hanya kau impikan.Tapi, jika engkau kasar dan palsu kepada dirimu sendiri, kepada keluarga, dan kepada sesamamu, hatimu akan digoreng dalam kuali kegelisahan dan kemarahan yang tak bersebab dan berujung. Sesungguhnya, keindahan hidupmu kau tentukan sendiri dalam pengindahan sikap dan perilakumu”.

Hidup adalah proses belajar, belajar menjadi sabar, belajar menjadi ikhlas..belajar menerima walau hati menolak..

Ketika kita mengeluh, “Ah…tidak mungkin..” Allah menjawab, “Jika AKU menghendaki,cukup Ku berkata “Jadi”, maka jadilah.” (QS: Yassin: 82)

kita mengeluh, “aku lelaaah..” Allah menjawab, “…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS. An-Naba: 9 )

kita mengeluh, “aku tak sangguup ” Allah menjawab, “AKU tidak membebani seseorang,melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah: 286 )

kita mengeluh,”aku stresss..” Allah menjawab, “Hanya dgn mengingat-KU, hati akan menjadi tenang” (QS. Ar-Ro’d: 28)

kita mengeluh, “aaah..ini smua sia2..” Allah menjawab “Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah,niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Al-Zalzalah: 7)

kita mengeluh, “aahh…tak seorang pun yg mau m’beri & m’mbantuku..”
Allah menjawab, “Berdoalah kpd-Ku,niscaya Aku kabulkan untukmu.” (QS. Al-Mukmin: 60)

kita mengeluh, “duuuh..betapa sedih hatiku..”
Allah menjawab, “LA TAHZAN, INNALLAHA MA’ANA.” “Jangan kamu berduka cita sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40)

Kemudian..berapa banyak lagi yg kita keluhkan..??

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan & kesedihanku.” (QS. Yusuf : 86)

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2012 in Cerita bunda